Selamat Berbahagia

Lagu ‘hujan” utopia mengalun kencang melalui ear phone yang ku pasang dikedua telingaku. Huvt. Sejenak aku mendesah. Kenapa? Kenapa teman jogingku bertema lagu galau semua? Memang sih sengaja ku ramdom play list lagu diponselku.
Tapi tak ku sangka malah berbagai lagu menyayat hati yang terputar. Ya sudahlah malas ku setting lagi, jadi ku biarkan urutan lagu yang keluar sesuai dengan suasana hati.

Sebenarnya sudah lumayan lama aku tak mendengarkan lagu-lagu diponsel melalui ear phone. Tapi malam ini aku mendengarnya, bukan karena ingin. Namun keadaan yang mengharuskannya. Ya, mungkin orang-orang melihatku aneh, malam-malam begini joging? Sepertinya orang itu sedang ingin lari dari masalah. Begitu mungkin pikir orang-orang di taman. Hahahh. Masa bodo apa yang dikatakan orang. Intinya aku hanya ingin lari di taman ini. Dan bisa cuek karena ada dentuman musik di telingaku.

Kembali ke lagu ‘hujan”. Sebenarnya aku sudah tak ingin lagi mengenangmu, tapi aku lupa menghapus lagu ini. Aku mendengarnya lagi. Memoriku seperti ditarik ke masa yang lalu, orang-orang biasa menyebutnya kenangan. Kenangan yang kerap hadir tanpa diminta. Betapa sebuah lagu bisa menarik memori seseorang yang jelas-jelas sudah ada dibagian paling bawah sebuah ingatan. Ia muncul lagi ke permukaan membawa pesan rindu.

Mungkin hanya aku saja yang merasakan rindu. Kamu, iya kamu pasti sudah lama menghapus memorimu tentangku. Ingatkah saat disebuah halte, kita berteduh dari guyuran hujan  yang kian deras. Kita begitu dekat, bersama menikmati musik syahdu kiriman dari langit. Eemm sebentar, kita? Mungkin maksudnya aku dan kamu. Karena nyatanya aku dan kamu tidak pernah menjadi kita.

Aku sadar, seharusnya aku tak mengganggu bahagia orang lain demi egoku yang ingin berbahagia. Kamu punya dia yang ingin bersegera mengikatnya ke dalam janji suci sebuah pernikahan. Matamu berbinar ketika bercerita tentangnya. Aku? Aku hanya jadi pendengar terbaikmu, sesekali mengangguk lalu menanggapi dengan senyum. Hei, tak bisakah aku bertukar posisi dengan dia mu itu? Aaah rasanya iri sekali.

Sejenak lamunanku buyar. Lagu ‘hujan” sudah berganti dengan ‘lapang dada’ sheila on 7. Aku tersenyum miris, bodohnya aku pernah menyukai seseorang yang jelas-jelas sudah punya dia yang lain. Mungkin benar, aku harus berlapang dada. Mengikhlaskan. Segera mungkin mencari bahagia yang lain. Yang tentu saja bukan denganmu.

Selamat berbahagia ya kamu. Aku sudah mendengar berita bahagiamu dengan dia. Lusa menjadi hari yang penting buatmu. Tapi maaf, aku tak bisa hadir. Aku masih butuh waktu untuk menata kembali perasaanku.  Terimakasih sudah sejenak mampir di hati dan sedikit memberi warna dihari-hariku, kemarin.

#fiksi

20 April 2016 ~> ke 10

Salam

Tim Genep kece :*

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s