Bedul dan Oreg Tempe Bu Yani

Namanya Bedul. Bukan nama sebenarnya. Hmmm maksudnya orang-orang biasa memanggilnya Bedul. Nama aslinya padahal keren, Dewo Sapto Kusumo. Aneh sekali kok dipanggil Bedul.
Usut punya usut ternyata, Bedul adalah nama ayahnya. Ketika SMP dulu, sedang hits sekali main ledek-ledekan. Saling ngatain sesama temannya dengan panggilan nama ayah masing-masing. Tidak disangka hingga dewasa masih saja melekat dengan nama Bedul. Hingga merantau pun, gara-gara satu kos dengan teman sekampungnya, lingkungan disekitarnya jadi ikut-ikutan manggil Bedul. Duuhh kasian sekali Bedul ini, eh Dewo maksudnya. Ah tapi lebih seru dipanggil Bedul aja kali yaaa, hihiih.

Jika dilihat dari namanya sudah pasti orang jawa. Asli orang Klaten. Doi lagi merantau di Jakarta. Sejak 1 tahun yang lalu setelah lulus kuliah, Bedul memutuskan untuk hijrah dan mencari peruntungan bekerja di ibu kota. Alhamdulilah sekarang Bedul sudah bekerja disebuah perusahaan kontraktor, dan Bedul dipercaya menjadi bagian purchasing atau pengadaan barang.

Tinggal di kos terkadang membuat Bedul tidak teratur dalam hal makan. Jika sudah pulang dan di kamar sering sekali malas untuk keluar sekedar mencari makanan. Beruntung, Bedul punya warteg langganan yang bisa delivery. Warteg bu Yani ini memang keren. Ada jasa deliverynya segala. Tapi ya khusus di sekitaran dekat wartegnya saja. Terletak di gang samping kosnya, bedul menjadi satu-satunya pelanggan yang super aktif.

Ada satu menu makanan yang bagi Bedul pantang sekali untuk dilewatkan. Selalu ada disetiap pesanannya. Adalah oreg tempe khas buatan bu Yani yang membuat Bedul sulit berpaling ke lain warteg. Haduuh Bedul ini ada-ada saja. Bedul bercerita bahwa, oreg tempe bu Yani ini sama persis rasanya dengan masakan almarhum ibunya. Itulah sebabnya Bedul sangat menyukai masakan bu Yani khususnya oreg tempe. “Semacam pengobat rindu dengan ibu” begitu curhat Bedul kepada bu Yani. Diam-diam bu Yani pun menaruh simpati terhadap Bedul. Malah ada keinginan menjodohkan putrinya dengan Bedul. Ejiyeee Bedul 😂.

Bedul dengan penghasilannya yang lumayan, padahal bisa saja makan di ke ep si atau mekdi. Atau di tempat lain selain warteg bu Yani. Dasarnya Bedul yang memang lidah ndeso, meskipun sudah berkeliling wisata kuliner tetap saja bagi Bedul masakan bu Yani seperti rumah baginya. Seringkali Bedul meminta bu Yani memasak diluar menu warteg, tapi sih tetep oreg tempenya gak ketinggalan. Huft, Bedul ini.

Pernah suatu hari tempe hilang dari bumi Jakarta, dikarenakan ada pelarangan impor kedelai. Sedangkan kedelai lokal sulit dicari. Alhasil para pengrajin tempe libur berproduksi. Dan 2 hari Bedul merana makan tanpa tempe. Hahahh ada-ada saja. Orang-orang merana karena cinta, lah si Bedul malah gara-gara tempe.

Hari ini, Bedul dipamitin sama bu Yani kalau pagi ini mau pulang kampung. Bu Yani bilang akan menghadiri anak perempuannya yang lusa mau wisuda. Jadi warung akan tutup sementara waktu.
“Jangan lama-lama ya bu, nanti saya makannya gimana?” Rengek Bedul.
“Wong ibu cuma seminggu di kampung, kamu kaya mau ditinggal jauh aja” balas bu Yati.
“Tapi kan buk, saya gak bisa makan tanpa tempe oreg buatan ibuk” imbuh Bedul.
Bu Yani cuma geleng-geleng dan terkekeh mendengar jawaban Bedul. Kemudian berlalu, karena travel jemputannya sudah tiba.

Sekitar pukul 11 siang ponsel Bedul berdering. Tapi karena sibuknya Bedul hingga ia tak menyadari ada telp masuk hingga beberapa kali. Baru setelah jam istirahat seusai sholat dzuhur, Bedul baru sempat membuka ponselnya. Kaget melihat banyak miscall, Bedul jadi penasaran. Tak berfikir lama, Bedul segera menelpon balik.
“Hallo..ini siapa?”
“Mas Bedul ini wati mas…” Terdengar seorang perempuan menjawab telpon Bedul.
Oh mbak wati, ada apa mbak? Maaf saya tidak tau ada telpon masuk” wati adalah seseorang yang membatu bu Yati di warung.
“Mas, ibuk mas…” Suara wati terdengar serak.
“Iya ibuk kenapa mba wati?”
“Travel yang dinaikin ibuk mengalami kecelakaan mas…” Jawab mba Wati dengan tangis yang terisak-isak tanpa henti.
“Innalilahi ya Allah…” Bedul berusaha mencerna apa yang dibilang mba Wati.
“Lalu bu Yani gimana mbak?”
“Ibuk gak ada mas…”
“Gak ada gimana?”
“Bu Yani meninggal mas…”
“Ya Allah, innalilahii…”
Seketika badan Bedul lemas, tidak mau percaya apa yang didengarnya barusan. Baru saja tadi pagi masih bercanda dengan bu Yani. Merengek agar tidak lama-lama berada di kampung. Tapi sekarang, bu Yani benar-benar tidak akan kembali lagi.
“Selamat jalan bu Yani, semoga Allah SWT menempatkan ibu di tempat terindah di sisiNya, amiin ” gumam Bedul dalam doanya.

Bedul termenung lama disebuah teras. Melamunkan hal-hal tentang bu Yani. Ingat tawanya, ingat kebaikanya. Dan yang pasti ingat masakan oreg tempe khas buatan bu Yani yang rasanya sama dengan yang dimasak ibunya.
“Mas dewo…sini. Ayo makan. Makanan kesukaanmu sudah siap ini…” Terdengar dari dalam suara lembut seorang wanita membuyarkan lamunan Bedul.
Dia adalah Dewi, anak perempuan bu Yani yang sudah satu tahun ini dinikahinya.
Ya, impian bu Yani kini terwujud. Meski bu Yani tidak menyaksikan ikrar mereka secara langsung, namun Bedul yakin jika bu Yani pasti bahagia melihat kami.
TAMAT.

16 April 2016 ~> ke 8

Salam

Tim Genep kece :*

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s