Rumah Nomor 7

Sudah 3 hari sejak kepindahanku ke rumah baru. Tepatnya baru malam ini aku mulai menginap, setelah 2 hari kemarin hanya bolak-balik untuk memindahkan barang-barang dari rumah yang lama. Alih-alih sering digenangi banjir sebagai alasan, aku memutuskan untuk hijrah ke tempat yang baru agar terbebas dari banjir.

Seperti basa, aku berangkat kerja pukul 7. Pagi ini cuaca lumayan cerah berawan. Aku mengunci pintu untuk segera bergegas menuju halte busway di jalan besar ujung komplek. Hitung-hitung olah raga pagi, akupun berjalan santai. Melewati beberapa rumah sekaligus menyapa para tetangga baru. Hingga melalui sebuah rumah mungil yang menyita perhatianku. Ya, rumah nomor 7. Terlihat ada seorang kakek sedang duduk diteras rumah sambil menggenggam sebuah surat kabar. Tidak sedang dibaca, namun pandangan matanya terlihat kedepan melihat pintu gerbang rumahnya. Sepertinya ada yang ia tunggu.

Aku berhenti sejenak, memandang sang kakek kemudian menunduk dan tersenyum. Kakek pun membalas senyumanku. Senyumnya manis sekali. Sepertinya sewaktu muda kakek ini tampan sekali. sekarang, meski sudah renta pun tak luntur kharismanya.

Esok paginya aku masih melakukan hal yang sama. Berhenti didepan rumahnya dan tersenyum pada sang kakek. Hingga pada hari ke 4, aku memberanikan diri untuk mendekat dan ingin berbincang dengan si kakek. Sebenarnya aku penasaran dengan namanya. Juga ingin menanyakan kenapa suka sekali duduk di teras sambil memandang ke depan kearah jalan.

“Selamat pagi kek…” Sapaku dari luar gerbang.
“Pagi…” Balas kakek
“Kek, aku boleh masuk ya?” Pintaku seraya mendorong pintu gerbang, dan sejurus kemudian aku sudah berdiri disamping sang kakek.
“Nama saya Naila  kek!” Aku menyodorkan tanganku untuk memintanya berjabat tangan.
Kakekpun membalas jabat tanganku. Memandangnya lebih dekat terlihat sendu sekali raut mukanya. Sorot matanya hangat, tapi tidak dengan tangannya yang terasa dingin.
“Panggil saja kakek Dul” jawabnya singkat sepaket dengan senyum menawannya.
“Kenapa kakek suka sekali duduk diteras setiap pagi seperti ini?” Tanyaku penasaran.
“Kakek menunggu ilham nak”
“Ilham? Memangnya ilham itu siapa kek?”
“Cucu kakek, katanya akan segera pulang”
“Oohh rupanya ada yang sedang ditunggu” gumamku dalam hati seraya mengangguk-angguk.
Rupanya kakek menyimpan foto ilham disaku baju safarinya dan menunjukkannya padaku. Senyumnya sama menawannya dengan kakek Dul. Mungkin usianya sekitar 25 tahun. Kulitnya tidak gelap, tidak juga putih. Tapi manis dan tentunya ganteng.

Pagi itu kakek bercerita banyak. Katanya sudah sejak kecil ilham tinggal dengan kakek dul. Semenjak kepergian orang tua ilham, kakek dul lah yang merawatnya. Hingga sekarang beranjak dewasa dan ilham sudah terbilang sukses dengan karirnya. Oiya, kakek dul juga berjanji akan mengenalkannya padaku. Diam-diam aku menyukainya meskipun baru melihatnya dari sebatas foto.

Aku juga menanyakan perihal kepergiannya saat ini. Kekek dul melanjutkan ceritanya lagi. Rupanya ilham pergi ke pelosok Kalimantan untuk menjadi relawan. Menjadi guru untuk anak-anak disuku pedalaman Kalimantan. Sebenarnya kakek dul sudah melarangnya pergi, tapi tekadnya yang kuat dan keinginannya untuk membantu sesama meluluhkan hati kakek dul dan kemudian mengizinkannya. Hanya 3 bulan katanya.

Hari ini tepatnya sudah 3 bulan, kata kakek. Tapi ilham tidak kunjung pulang.
Aku ikut sedih mendengar cerita kakek. Rupanya kakek dul amat merindukan ilham, dan tentunya sangat menyayanginya.

Diperjalanan menuju kantor aku memikirkan kakek dul. Bagaimana ia menjalani hari-harinya tanpa ilham? Aahh rasanya ingin sekali meminta kakek dulu untuk tinggal bersamaku.

Hari minggu, aku berniat untuk mengunjungi kakek dul dengan membawa sepiring kue bolu buatanku. Tapi kecewa, kakek dul sedang tidak ada. Entah pergi kemana. Tumben sekali pikirku. Padahal biasanya, pagi seperti ini kakek dul sedang duduk diteras rumah.

Keesokan paginya, aku berangkat lebih pagi agar bisa bertemu kakek dul lebih lama. Kali ini pun sama dengan hari minggu kemarin. Kakek dul tidak ada. Besoknya dan besoknya lagi pun berulang. Aku tidak menemukan sosok kakek dul sedang bersantai di teras rumahnya. Kira-kira kemana perginya kakek dul? Pertanyaan itu memenuhi isi kepalaku.

Aku tidak menyerah. Dipagi yang gerimis aku bertekad untuk masuk ke dalam rumah kakek dul. Jujur aku khawatir, takut sesuatu terjadi dengan kakek dul. Baru mendorong sedikit pintu gerbang, ada seseorang yang memanggilku. Aku seketika menoleh, dan ternyata ibu Nur yang memanggilku. Beliau tetangga disebrang rumah kakek dul.

“Neng Naila sedang apa?”tanyanya.
“Hmmm ini bu, saya sedang mencari kakek dul” jawabku.
“Mencari dimana?” Timbal bu Nur.
“Ya di dalam rumah bu, siapa tahu ada di dalam. Soalnya sudah seminggu saya tidak melihat kakek dul” aku coba menjelaskan.
“Neng Naila ini bagaimana…”
“Bagaimana kenapa bu?” Tanyaku penasaran
“Lho kakek dul kan sudah meninggal 2 minggu yang lalu….”
“Tidak mungkin bu, seminggu kemarin saya rutin bertemu kakek dul kok” sanggahku tidak mau percaya.
“Benar neng, kakek dul sudah meninggal. Tepatnya sewaktu neng Naila baru pindah ke komplek ini” bu Nur berusaha meyakinkan.

Aku terdiam lama. Seketika bibirku kelu. Payung yang sedari tadi ku pegang jatuh. Tubuhku lemas. Aku masih mencerna apa yang dikatakan bu Nur. Bingung. Tidak percaya. Benarkah? Tidak, ini tidak mungkin.

Aku memilih pulang dan absen bekerja. Dengan tubuh gontai dan air mata yang terus mengalir, aku berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Beredar cerita bahwa kakek dul meninggal dalam keadaan memeluk foto ilham. Dan yang membuat aku lebih terpukul lagi, ilham adalah salah satu korban jatuhnya pesawat terbang dari Kalimantan menuju Jakarta yang ramai diberitakan beberapa waktu lalu.

Lalu siapa sosok kakek Dul yang aku temui kemarin? Sebuah pertanyaan besar yang tidak bisa ku jawab hingga detik ini. Entahlah. Aku berdoa, semoga kakek dul bisa melepaskan kerinduannya dengan ilham di surga sana. Amiinn
.
.
#Day2 #30HariMenulisSuratCinta

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s