Yang ke 2, Untuk Anggara

Jakarta 10 Desember 2015

Bermula dari ice coffe float jelly yang ku sesap tak bersisa kemarin sore,  aku jadi susah terpejam. Padahal sudah ku rapalkan doa menjelang tidur. Lantunan pujian kepada sang khalik pun terus bergema dihati. Tapi tetap saja mata ini tak mau berkompromi.
Kemudian ku alihkan dengan membaca beberapa blog favorit, belum ada pembaharuan. Masih dengan postingan yang lama. Sedikit kecewa, namun akhirnya aku membuka beberapa tulisan diblog ku sendiri. Terdengar narsis memang, tapi siapa yang perduli.

Anggara. Seseorang yang pernah aku kirimi sebuah surat dipostingan bulan february yang lalu. Saat ini sudah desember. Wow 9 bulan. Jika ini soal kehamilan mungkin tinggal menghitung hari saja untuk menunggu persalinannya, hehheeh. Waktu memang cepat sekali berlalu. Matahari seakan semakin merindukan bulan, cepat sekali tenggelam dan menggantinya dengan malam. 9 bulan aku lupa tentangmu, padahal sudah berjanji akan terus mengirim surat dan bercerita banyak hal. Aku memang pantas dihukum.

Jadi, apa kabar kamu Anggara?. Baik? Syukurlah, itu yang selalu jadi harapanku. Dan akupun ‘selalu baik’. Tapi aku sedang susah tersenyum sekarang. Ada beberapa yang sedang ku fikirkan. Hmmmm entah. Yang pasti ada rasa nano-nano. Kesel, bete, nyesek dll. Yaah begitulah perempuan, suka susah mngungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Inginnya ditebak, tapi kalau salah malah menganggap disekitar gak peka, hahahhh. Aneh memang, tapi kebanyakan memang seperti itu, dan akupun. Hehehh.
Banyak sekali yang ingin ku ceritakan padamu. Mulai dari pagi tadi yang terlambat subuh, sampai suasana pekerjaan yang membosankan. Dinikmati dan disyukuri saja yaa biar tidak ada beban. Eh tapi by the way, rasa sesakku berangsur menghilang setelah menulis ini untukmu. Lucu ya, padahal hanya obrolan satu arah. Jangan bosan ya mesti hanya jadi pendengar.

Sudah 10 hari sejak memasuki bulan desember. Harusnya langit sedang bergembira menumpahkan tabungan awan gelapnya untuk menyirami bumi. Namun hawa panas masih lebih dominan dibanding hawa sejuk selepas hujan. Bagaimana ditempatmu? Harusnya sih tak jauh berbeda ya, karena harapanku kamu tidak tinggal di negara 4 musim. Hehehh. Oiya, tapi ada kabar baik. Pohon disebrang kantorku, yang tadinya menanggalkan daun-daunnya kini sudah banyak bersemi tunas-tunas yang hijau. Posisinya memang tak seberuntung pohon lain yang berada didekat sumber air. Meski begitu, dia mampu bertahan hidup walau harus berkorban dengan menggugurkan daun-daunnya. Aku ingin kamu seperti pohon itu ya… Kuat, meski banyak terpaan angin. Kokoh bertahan, meski tak seberuntung yang lain. Dan sabar, karena rizki Tuhan sudah pasti tersebar untuk seluruh makhluknya dibumi.

Sudah dulu yaaa. Next time akan ku kirim surat yang lebih panjang lagi. Tentunya dengan cerita yang berbeda. Jangan bosan dulu sebelum aku yang bosan, hehehh. Mari menyesap kopi hangat bersama. Aku di tempatku, dan kamu di tempatmu๐Ÿ™‚.

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s