Selamat Hari Guru

25 November 2015. Hari ini diperingati sebagai #HariGuruNasional. Diawali dengan obrolan diwhatsapp pagi tadi, salah satu teman saya mengatakan ini “Selamat hari guru, dan buat dia yang akan jadi guru buat anak-anakku nanti”. Uwuwuwuuuuu suit amaat, panci-panci di dapur langsung pada jatuh kedombrengan, hahahh.
Kemudian saya pun ikut merayakan dengan membuat twitt  “Selamat hari guruu…Salam buat Bpk Nurkhamim guru kls 6 duluu, salah satu inspirasi besar hidupku :)”.  Ah elaah pake salam, dikira radio kirim-kirim salam. Tak berapa lama saya membuka twitter, saya beranjak ke media sosial lain. Yap bbm, hampir semua status dan display bbm mereka berkaitan dengan guru. Tidak jauh berbeda dengan facebook ataupun instagram. Semua merayakannya. Semua memperingatinya. Semua seperti dibawa ke masa lalu, mengingat guru-guru mereka.

Jika ditanya, adakah guru yang menginspirasimu hingga sekarang? Ada. Ada banget. Seperti yang sampaikan diawal, beliau guru SD saya. Namanya Bpk Nurkhamim. Perawakannya tinggi, orangnya hitam manis. Mengajar saya dari kelas 5 hingga kelas 6. Menyenangkan sekali diajar oleh beliau. Tapi kalau sedang marah menyeramkan. Pernah suatu hari, ketika diterangkan saya malah bercanda dengan teman sebangku saya. Kapur yang sedang dipegangpun langsung melayang ke arah saya. Gak kena tapi hampir, hihiiih. Bandel banget emang dulu. Tapi setelah itu gak berani lagi, dan serius mendengarkan. Ada satu ciri khas beliau yang saya pakai hingga sekarang, yaitu paraf. Paraf berbeda dengan tanda tangan yaaa. Iya, paraf ala pak Nurkhamim saya pakai hingga sekarang. Bahkan ada teman saya juga yang meniru tanda tangannya. Pesan beliau yang selalu saya ingat adalah tentang anjuran untuk menabung setiap hari. Lalu dijalankan? Kadang iya, kadang enggak, hehehhh. Pokoknya pak Nurkhamim ini guru paporit saya banget.

Sewaktu SMP, saya juga punya guru yang tak kalah seru. Super seru malah. Bagaimana tidak seru, ketika tampak dari kejauhan saja membuat para siswa berhamburan masuk ke kelas. Hahaaah. Saya biasa memanggilnya Bu Kus (lupa nama panjangnya). Dan saya sering dipanggil Heri olehnya, pfft.  Beliau guru bahasa indonesia. Disiplin dan tegas menjadi ciri khasnya. Tidak ada toleransi bagi siswa yang malas. Semua pasti setuju kalau dibilang Bu Kus ini guru tergalak satu sekolah. Paling gak suka ada siswa yang menggerai rambut panjangnya. Katanya mengganggu. Dan saya salah satu yang suka melanggar, karena dulu rambut saya selalu panjang.  Dan sering ngumpet kalau sewaktu-waktu papasan, wkwkw. Jika dikelas, wajib tunjuk tangan ketika membahas tugas. Yang tidak tunjuk tangan, maka siap-siap jadi bulan-bulanan Bu Kus. Penggaris kayu panjang adalah senjatanya. Bisa dibayangkan kan suasana kelas yang  mencekam layaknya kuburan jum’at kliwon, hahhah. Ada yang menggelitik hingga sekarang. Saya ingat betul ketika ada tugas membuat kalimat dengan kata-kata tertentu. Murid terbandel di kelas yang ditunjuk saat itu. Dengan kata “batu”, dia pun menyampaikan kalimat karangannya. Begini kalimatnya, ” Es bukus sekeras batu”. Sontak saja membuat geer satu kelas, juga Bu Kus pun ikut  tertawa. Agak songong ini bocah. (FYI: Bu Kus punya usaha membuat es mambo, dan menitipkannya di kantin sekolah). Lucu gak? Enggak yah? Ya udah, hahahah.

Beranjak ke SMA, saya tidak punya kenangan khusus dengan guru. Mungkin karena dulu bukan siswa yang menonjol di sekolah. Dengan prestasi yang biasa saja, serta rupa yang biasa juga. Hhahah. Eh tapi, guru sosiologi dan guru SKI saya pernah naksir sama teman saya. Jaileeeh ditaksir guru kece, nilainya A terus tuh. Tapi entah kelanjutannya seperti apa, saya gak kepoin. Gak mungkin juga mereka bersatu kaya disinetron-sinetron. Heee

Dulu sewaktu SD sebenarnya pernah punya cita-cita menjadi guru. Tapi kemudian berubah-ubah. Yah, namanya juga masih anak-anak. Dan sekarang malah jadi karyawan yang embuh sebutannya wanita karir atau apa. Melenceng jauh dari cita-cita awal.  Tapi jujur saya suka mengajar anak-anak. Paling lingkupannya disekitar rumah saja. Membantu kelompok belajar kecil anak-anak tetangga. Membantu mereka mengerjakan pe er. Paling hanya sebatas itu saja, heee. Melihat para sahabat saya banyak yang menjadi guru rasanya senang sekali. Dari yang mengajar SD sampai ada yang menjadi dosen. Haii kalian, selamat hari guru. Semoga semangat kalian tak pernah padam. Semakin sabar menghadapi anak-anak. Selalu diberi kesehatan. Semoga juga makin disejahterakan oleh pemerintah. Amiiin.

Sekali lagi “SELAMAT HARI GURU…” Pahlawan tanpa tanda jasa. Seorang Neil Amstrong tidak akan sampai ke bulan tanpa kalian para guru🙂.

        “Seorang guru menceritan masa lalu,
             Mengungkapkan masa kini,
                   Dan menciptakan masa depan”

*quote by meme Beritagar

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s