Kopi dan Cerita Sore

Beberapa saat yang lalu, seperti biasa kami sering membuat janji bertemu selepas kerja disalah satu tempat favorit. Teman baik saya yang satu ini katanya ingin bertemu dan katanya lagi banyak hal yang ingin diceritakan. Seperti biasa, saya selalu datang lebih awal. Karena kebetulan jam kerja saya lebih cepat selesai dibanding dia. Juga karena lokasi janjian lebih dekat dari tempat dimana saya bekerja. Dengan memesan minuman kopi dingin yang sama disetiap datang, saya pun berusaha menikmati waktu menunggu. Mengamati keadaan sekitar menjadi hal yang mengasikan. Memang, terkadang sendiri itu lebih baik. Iya terkadang. Ada hal-hal yang hanya bisa dinikmati sendiri. Adaaa. Bergumul dengan pikiran sendiri misalnya.

Satu jam lamanya saya menunggu. Namun, menunggu kali ini tidak membuat kesal ataupun bete. Sendiri di tempat ramai seperti ini seperti sedang merileksasi pikiran. Eh tapi jangan kebanyakan sendirian ya, nanti ditemenin setan, hihiih. Tentunya ada teman lebih menyenangkan. Ada yang diajak bicara, ada yang menanggapi. Begitulah seharusnya.

Teman yang saya tunggu pun akhirnya tiba. Kami bercerita banyak hal. Dari yang gak penting-penting amat sampe bercerita mengenai berbagai macam kegelisahan yang sedang dihadapi. Ya, kegelisahan. Teman saya bercerita bahwa, ruang lingkup hidupnya akhir-akhir ini semakin sempit saja. Hanya berkutat di tempat kerja dan di rumah. Itu saja. Betapa sebenarnya dia ingin seperti saya dan yang lain. Menikmati banyak hal yang disuka. Bisa bebas menentukan pilihan kemana ingin pergi disaat ingin pergi. Betapa bercengkrama dengan banyak orang adalah sesuatu yang ingin dilakukannya.

Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa seperti yang lain, yaitu tentang sebuah kewajiban. Kewajiban yang terkadang membuatnya terbelenggu. Tidak, bukannya dia tidak ikhlas menjalankan kewajibannya. Namun ada kalanya juga ingin merasakan sebuah kebebasan. Selama ini merasa seperti ada tali yang mengikatnya. Sebenarnya bisa saja dia melepas tali itu, tapi setelah kembali lagi melihat ke belakang ada semacam rasa ‘egois’ jika tetap mengikuti kehendaknya. Ada yang lebih membutuhkan dibanding sekedar mengikuti keinginan hati sendiri.

Dulu saya sempat berfikiran ngatif. Iya maaf pernah menilaimu jelek. Banyak sekali pertanyaan kenapa dan kenapa?. Kenapa susah sekali menghadirkanmu ketika ada event spesial atau hanya sekedar berkumpul. Sekarang tahu bahkan paham,  bahwa bicara dari hati ke hati itu memang penting. Setidaknya bisa mengerti alasan yang terkadang tidak bisa dipahami orang lain. Juga sedikit banyak membuka pikiran saya mengenai apa itu ‘memahami’.

Tapi saranku buatmu, lawan rasa mindermu. Ketika yang lain punya bahan cerita lebih banyak darimu. Ketika yang lain lebih punya pengalaman dibandingmu. Kamu juga sebenarnya mampu untuk bercerita banyak hal. Bahkan yang orang lain tidak bisa lakukan tapi kamu bisa. Takut tertinggal jauh? Aahh itu hanya perasaanmu saja. Ayo rubah sugestimu lebih positif lagi. Saat kamu berfikiran ‘masih disini saja’ sedangkan yang lainnya sudah jauh melangkah. Kamu bisa dengan caramu mendahului mereka. Asal ada niatan dan jangan takut bermimpi. Kelak mimpi itu yang akan menjadikanmu dilevel seperti apa. Saya pun sedang dalam tahap belajar memupuk mimpi.

Berbicara dengamu sore itu membuat saya mengerti. Jangan mudah men’judge’ seseorang ketika tidak benar-benar tau apa yang dialaminya. Belajar lebih memahami, bukan menghakimi. Itu~

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s