‘Darurat’ Liburan ke Jogjakarta (Day 3, Explore Pantai Gunung Kidul)

Terhitung sudah satu bulan 5 hari tepatnya sejak postingan terakhir dibuat diblog yang gak asik ini. Alih-alih sibuk sebagai alasan. Iya sibuk mikirin kamu…#eaaak. Selain hobi gantungin hati sendiri, saya juga punya hobi gantungin tulisan. Sungguh ini hobi yang tak patut dicontoh, hahahh. Oke ini mulai ngelantur, yuk dilanjutin saja ulasan soal liburan Jogja kemarin.

*Menuju Pantai Gunung Kidul

Matahari sedang tinggi-tingginya ketika kami meninggalkan goa pindul menuju pantai-pantai di gunung kidul. Kami memutuskan ke pantai indrayanti dan pantai pok tunggal sekaligus mencari penginapan disana. Juga katanya ingin berburu milkyway Ihiiirr, gaasss. Jalanan mulus dan lurus. Diawal jarang sekali menjumpai tikungan. Pemandangannya memukau. Hijau dikanan kiri jalan. Dan karena jalanan yang mulus dan lurus itu malah menimbulkan kantuk. Apalagi sehabis main air di goa pindul tadi. Yaa, benar saja yana dan irwan terhipnotis dengan semilirnya angin gunung kidul alias mengantuk. Beberapa kali hampir lepas kontrol sampai jalannya melipir ke pinggir. Mery pun merasa demikian katanya. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan akhirnya saya pun menggantikannya. Beralih posisi menjadi pengemudi ternyata tidak membuat penumpang nyaman, hahahhh. Okeh saya memang tidak bakat jadi kang ojeg, tapikan sebagian kecil wilayah Jakarta sudah saya taklukan *halah. Artinya saya memang benar-benar bisa bawa motor. Hanya penumpang dadakan ini yang kelewat takut dan bawel, bukannya tidur malah ngerecokin saya. “Bawa motornya yang bener, awas ati-ati ada yang nyalip, ngeremnya santai, nikungnya biasa aja jangan lebar-lebar”. Ya Tuhan…bawelnya udah lebihin emak-emak nawar cabe di pasar. Gak percayaan banget, aslik malah bikin gerogi. Saya kan bukan golongan pengemudi yang suka nge’sen kekiri belok kekanan, hahah. Eh tapi masih suka deg-degan dink kalau nyalip mobil kontener dan sebangsanya. Yaah namanya juga cewek *pembenaran : ))

Melihat keterangan diwaze katanya akan sàmpai dalam beberapa menit lagi. Tapi kok masih jauh aja gak sampe-sampe. Masih lurus lurus dan lurus. Rada nyesel kenapa gak berhenti dulu dan foto-foto. Sempet salah belok, tapi sumpah pemandangannya wow banget. Ada tebing tinggi disisi kanan jalan. Nah dari tempat salah belok ini masih lurus lagi. Aaakk saya mulai jengah. Gak kebayang dulu kera sakti dan gurunya berkelana mencari kitab suci dengan berjalan kaki, pasti sangat  lelah. Eh kera sakti emang lewat sini? *yakkalee  *Tjieee bahasannya kera sakti, tua banget yak : )))

Dua jam kemudian akhirnya kami sampai di pantai indrayanti. Harga tiket masuknya 10k per orang. Agak gagal paham sih, kenapa lokasi  pembayaran tiket retribusinya berjarak jauh sekali dengan lokasi wisatanya. Ya udahlah yaa gak usah dikipirin, mendingan mikirin kamu. *uhuk.  Berasa masih jetlag, kamipun duduk-duduk santai dulu menikmati hawa pantai ditemani kelapa muda dan cecemilan. *bantal mana bantal?? *ngantuk mode on ~

image

Pantai Indrayanti

image

Anak ilang

image

Wajib groufie

image

Ini mau mantai apa nggunung? : ))

image

Monmaap yg belakang kepotong, lebih kece gitu : )))

Foto-foto udah, isoma juga udah. Lanjut ke pantai  pok tunggal yang letaknya masih berderetan dengan pantai indrayanti. Kalau tidak salah ke selatan lagi, Eh tapi gak tau juga. Saya buta arah disini, hihiiih.

Kecewa. Ketika kami mau memasuki jalan ke pantai pok tunggal, kami berpapasan dengan penduduk setempat dan menyampaikan kalau jalanannya sedang diperbaiki dan tempat parkirnya jauh. Rembugan sebentar, lalu diputuskan putar balik saja alias gak jadi dan batal. Syedih. Sebenernya karena pertimbangan waktu juga yang sudah sore karena kami harus kembali ke Jogja. Pokoknya gak mau tau, nanti harus balik lagi titik. Bodo amat harus dan wajib *beeuh maksa, emang ada yang mau nemenin? *nggg….

Sambil memendam kekecewaan dihati *halah, kamipun melanjutkan perjalanan pulang. Eh tapi, tidak sengaja kami melewati pantai krakal. Tidak pikir panjang lagi saya meminta temen-temen untuk putar balik. Huaahh ini to pantai krakal yang sering saya lihat dipostingan temen-temen blogger. Sedikit mengobati kekecewaan yang tadi, gak bete lagi. Bisa foto gaya-gaya dikit buat dipost di instagram, ihiiirr.

image

Pantai krakal

image

image

image

image

Matahari sudah benar-benar mau tenggelam, kami harus kembali. Gak pake mampir-mampir lagi. FYI, kami tidak jadi menginap di gunung kidul. Alasannya, besok sore sudah harus kembali ke Jakarta, tapi kami belum keliling kota jogja dan belanja oleh-oleh. Lah trus milkyway-nya piye??? *wislah mbuh *belum rejeki : D

Pulang ke Jogja kota,  kami tidak melewati jalan sewaktu berangkat. Entahlah, kami hanya mengikuti petunjuk waze. Jalanannya bagus, tapi sepi dan gelap. Aslik serem, tapi untung mental para cowok kece ini menguatkan kami para cewek yang sudah lelah. *preet. Segala ada drama hampir kehabisan bensinlah, hampir jatohlah karena gak liat lobang. Jalanan juga naik turun, tidak jarang juga melewati tikungan tajam. Sempat kehilangan signal sewaktu kami istirahat sholat, dan buta arah serta tidak tahu lokasi. Ditambah lagi dengar cerita mery yang katanya irwan merasa berputar-putar dijalan yang sama. Haduuuh makin horor. Bismilah sajalah, pasti bisa sampai. Begitu tekad saya dalam hati.

Lega. Yaa itu perasaan yang saya rasakan ketika mulai memasuki jalanan yang ramai. Finally, setelah selama lebih dari 2 jam berkutat dengan hati was was kamipun mendarat di jogja kota dengan perut laper dan galau hendak menginap dimana, hahahh. Nah lo, mangenak. Kami memasuki Gg. Sosrowijayan di Malioboro, pusat hotel murah favorit para backpaker. Bingung mau menginap dimana, kemudian mery teringat dengan hotel munajat backpaker yang dari awal memang ingin menginap disana. Langsung ditelp dan masih tersedia kamar, horee. Hotel munajat backpaker sendiri berada di Gg. Sosrokusuman tidak jauh dari Gg. Sosrowijayan (bersebelahan) dan posisinya masih dipusat malioboro. 150 k untuk satu kamar. Alhamdulilah ketemu kasur dan bisa rebahan.

image

Hotel Munajat Backpaker tampak dari depan

Kamar sudah didapat, bersih-bersih badan juga sudah, tinggal lapernya, hihiiih. Marilah kita menuju pusat angkringan yang berada di sebelah utara stasiun tugu. Duuh nama jalannya apa ya? Pokoknya jalan sedikit melewati stasiun tugu, nanti ketemu pertigaan trus belok kiri. Nah di trotoar sepanjang jalan itu berjejer pedagang angkringan dan rame banget sama muda-mudi yang lagi nongkrong asik. Pengamennya juga kece banget nyanyinya. “Buuk, nasi kucing sama kopi josnya yaa…” Alhamdulilah makan nasi kucing doank bisa bikin lupa sama mantan drama horor tadi di jalan. Dan malam terakhir di Jogja malah lebih berasa khidmatnya. Seru, bakal selalu kangen pastinya. Dan sebagai penutup jalan-jalan malam itu, tidak lupa kami  berfoto di spot sejuta umat, hahahh. Yaap, plang bertuliskan Jl. Malioboro. Yaah namanya juga #travelerpemula, norak dikit gak papa biar hitz dan  gak dikira hoax, hihiiih.

image

image

Kece donk keceeeh : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s