Menyudahi Rasa

Kemarin aku bermimpi. Saat terbangun mataku sembab. Basah oleh air mata yang entah aku juga tak mengerti. Ku renungkan kembali apa yang sebenarnya terjadi di mimpi itu.

Ya, aku ingat.
Kau menunjukan beberapa foto padaku. Tidak, bukan foto perjalanan travelingmu. Kali ini berbeda. Amat berbeda. Siapa seseorang disampingmu itu? Yang tersenyum lebar didekatmu. Dari sorot matanya terpancar kebahagiaan. Juga dimatamu. Perempuan itu bukan aku? Benar, bukan aku. Meski ku berusaha melebarkan mataku sekali lagi. Tidak, memang bukan aku.
Kau tahu? Betapa sedihnya aku dimimpi itu. Sesak sekali rasanya hingga sulit bernafas. Aahh mimpi, aku berharap itu benar-benar mimpi yang tanpa makna.

Heei kamu!!
Beraninya masuk tanpa permisi ke hati ini. Meski tidak ku siram, namun terus tumbuh. Seperti kaktus di padang pasir yang bisa hidup lama meski tak terawat. Tidak, aku benar-benar tidak ingin merawat rasa ini. Karena aku tau, rasamu bukan untukku.

Tak bisa ku pungkiri. Walau tak banyak namun harapan itu ada. Harapan untuk bisa mendiami hatimu. Tapi aahh sudahlah, toh ini cuma harapanku. Harapanmu juga pasti ditempat yang berbeda.
Dan mungkin mimpi itu pertanda. Pertanda untuk menyudahi rasa ini.

#30HariMenulisSuratCinta
Day 16

One thought on “Menyudahi Rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s