Ini Bukan Surat, Tapi Curhat

Aaaakkk surat ke sebelasku telat. Ottoke? Bagaimana ini? Aku belum membuatnya. Otakku serasa beku. Susah untuk berfikir, jari ini juga sepertinya mengikuti perintah otak yang memilih untuk diam.

Jadi gini lho mas Adimasnuel kang posku yang baik hati. Perihal suratku yang terlambat ini. Tahu kan mas kalau Jakarta diguyur hujan dari semalam, bahkan sampe detik ini pun masih belum mau berhenti. Sepertinya langit sedang menghabiskan jatah hujannya dibulan yang katanya penuh cinta ini. Aku jahat sekali yaa, malah menyalahkan hujan. Padahal kalau mau menulis ya menulis saja. Gak ada alasan, betul kan mas?

Tapi mas, tadi pagi ketika aku berangkat ngantor semua masih baik-baik saja. Meski hujan aku nekat melajukan motorku. Jalanan hanya basah. Kalaupun menggenang itu masih bisa dilewati. Tapi dua jam setelahnya, air perlahan naik hingga masuk ke halaman kantor. Mas tahu kan sifat air itu, jika sudah tak muat disatu tempat maka akan meluber kemana-mana. Iya aku semakin panik tadi siang. Kalau disini saja sudah banjir, bagaimana dengan rumahku? Aahh pikiranku semakin kacau setelah mendapat telf dari sepupuku yang memberitahu kalau air sudah masuk rumah. Akhirnya sekitar jam 11 kantor dibubarkan. Padahal yang dateng juga cuma aku dan bosku doank. Dengan diantarkan bosku menggunakan mobil trek aku geli sendiri bercampur perasaan sedih memandang jalanan Jakarta yang seperti sungai dadakan. Aneh ya mas kenapa pakai trek?hihiiiii. Mobil bosku juga ikut menyerah seperti motorku yang akhirnya ku tinggal dikantor. Kebayang donk mas, bisa-bisa motorku mogok di jalan dan malah merepotkan. Singkat cerita, akhirnya akupun sampai rumah. Dari jalanan depan menuju rumahku ku tempuh dengan berjalan kaki. Airnya sekitar lutut orang dewasa. Dan benar saja ketika sampai rumah air sudah menggenang sekitar 30cm. Aku makin frustasi mas. Untung tidak ada barang berharga yang rusak karna banjir. Masih ada lantai atas, Alhamdulilah sekarang sudah mulai tenang dan bisa berfikir.

Duh mas maaf curhatnya kepanjangan. Ini memang tidak layak disebut surat, curhatan lebih tepatnya. Jadi sekali lagi mohon maaf ya mas. Tidak usah diRT gak apa-apa. Aku juga sadar diri, karna batas pengirimannya sampai jam 18:00 saja. Semoga besok banjirnya sudah surut. Minta doanya ya mas… Terimakasih.

#30HariMenulisSuratCinta
Day 11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s